STOP KEKERASAN ANAK

STOP KEKERASAN ANAK

STOP KEKERASAN PADA ANAK

(Disadur dari brosur Kantor Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Kabupaten Malang)

http___makeagif.com__media_4-21-2014_x0nKfy

Apa yang dimaksud dengan kekerasan terhadap anak ?

Kekerasan terhadap anak adalah semua bentuk perlakuan secara fisik dan atau emosional, penganiayaan seksual, penelantaran atau eksploitasi secara komersial atau lainnya yang mengakibatkan gangguan nyata atau potensial terhadap perkembangan kesehatan atau kelangsungan hidup anak ataupun terhadap martabat dalam konteks atau kekuasaan (menurut WHO) atau dapat diartikan sebagai tindakan kekerasan pada anak merupakan sebuah tindak kesengajaan penyerangan terhadap fisik, mental dan seksual yang mengakibatkan perubahan dan gangguan pada tumbuh kembang anak.

Kekerasan anak meliputi :

Kekerasan fisik, yaitu tundakan yang sebgaja dan paksa dilakukan terhadap bagian tubuh anak yang bisa menghasilkan atau tidak menghasilkan luka fisik pada anak, contoh dicambuk, ditampar, dipukul, dijewer, dicubit, disuruh jemur lama di bawah terik matahari.

Kekerasan psikis/emosional, meliputi serangan terhadap perasaan, harga diri anak, contoh dihina, diremehkan, diejek, diancam, dibentak-bentak.

Kekerasan seksual, yang terjadi jika anak digunakan untuk tujuan seksual bagi orang yang lebih tua usianya, contoh diraba di bagian pribadi, disiuli, dipeluk, dicium paksa dan lain sebagainya.

Kekerasan yang diakibatkan oleh peraturan di pihak sekolah dan lingkungan rumah, hukuman-hukuman pihak sekolah yang ditunjukkan pada siswa-siswa yang melanggar peraturan sekolah identik dengan kekerasan, contoh jika terlambat masuk sekolah bagi si anak, yang bersangkutan disuruh lari keliling lapangan, dikunci di kamar oleh orang tuanya ketika pulang malam.

Perbedaan jenis kekerasan yang diterima anak laki-laki dan perempuan, antara lain, bila anak laki-laki cenderung mengarah pada kekerasan fisik sedangkan pada anak peremopuan cenderung kekerasan seksual dan psikis, walaupun ada kekerasan fisik namun intensitasnya jarang terjadi.

Bentuk-bentuk kekerasan anak, antara lain :

Anak laki-laki cenderung lebih banyak menjadi korban kekerasan guru maupun orang tua. Hal ini terjadi karena mereka cenderung lebih bandel, sehingga berpeluang mendapatkan hukuman.

Anak perempuan justru paling banyak mendapatkan kekerasan dari teman sebaya, sedangkan pelakunya dapat anak perempuan maupun laki-laki.

Kecenderungan kekerasan seksual juga mulai banyak memakai korban di kalangan anak perempuan.

Pihak-pihak yang terlibat kekerasan terhadap anak.

Anak yang rawan menjadi korban, yaitu :

  • Anak nakal yang biasa mendapat hukuman kekerasan dari orang tuanya.
  • Teman yang bermasalah dengan si pelaku kekerasan.
  • Anak dengan keluarga yang tidak harmonis.
  • Murid yang mendapatkan hukumna dari guru berupa tindakan kekerasan.
  • Teman, adik kelas (laki-laki maupun perempuan).
  • Anak perempuan cantik.
  • Anak yang membawa handphone di sekolah.
  • Anak pendiam dan tidak suka bergaul.
  • Anak yang cengeng.
  • Anak yang cerewet, sok cantik, kemlinthi (sok), sombong.
  • Anak yang suka mencari perhatian.

Anak yang cenderung menjadi pelaku, yaitu :

  • Pengurus OSIS ketika MOS.
  • Kakak kelas dan teman.
  • Kelompok geng.
  • Mereka yang gampang iri terhadap teman.
  • Anak yang nakal, termasuk yang biasa mendapat kekerasan dari orang tuanya.
  • Anak yang suka membolos ketika jam pelajaran, nongkrong.
  • Sering tidak masuk sekolah.
  • Sering ramai di kelas.
  • Perilaku yang sok jago.
  • Anak yang ikut perguruan pencak silat.
  • Anak yang badannya besar.
  • Guru yang galak yang mewakili sifat emosional.
  • Satpam dan tukang kebun.
  • Bapak.
  • Saudara.
  • Tetangga.

Faktor yang mempengaruhi terjadinya kekerasan terhadap anak maupun hal yang menjadi penyebab timbulnya kekerasan terhadap anak, karena situasi lingkungan pergaulan, keluarga dan sekolah yang rawan kekerasan, diantaranya :

  • Berkenalan dengan orang yang kurang baik.
  • Putus dengan pacar.
  • Kalah bersaing atau taruhan.
  • Bercanda dengan berlebihan.
  • Budaya kekerasan ketika MOS (Masa Orientasi Sekolah).
  • Melanggar peraturan atau membantah nasihat orang tua dan guru.
  • Senioritas merasa berkuasa pada adik kelas.

Dampak kekerasan pada anak sekolah :

Dampak yang menimbulkan trauma fisik, yaitu :

  • Pingsan-pingsan.
  • Berdasar-darah dipukul.
  • Memar-memar lebam.
  • Pendarahan pada hidung saat berkelahi.
  • Pusing akibat dijambak.
  • Lecet-lecet, luka serius.

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

*

* Copy This Password *

* Type Or Paste Password Here *

Anda dapat menggunakan tag dan atribut HTML: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Current ye@r *